Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemuda. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Juli 2019
Bedah Buku : " GREAT AT WORK "
Detail Buku :
Judul Buku : Great at Work
Penulis : Morten T. Hansen Morten T. Hansen
Tahun Terbit : January 2018
Penerbit : Simon Schuster
Halo sobat Cendikia. kuy Sharing Sharing, Inspiring!
Kembali lagi, saya hendak berbagi sedikit pengalaman ilmu yang saya dapatkan dari mentor dan diskusi rutin yang saya ikuti berasama Coach Dermawan Aji ( pakar bisnis indonesia ) buat sobat cendikia semua.
Pada kesempatan ini, kita akan membedah buku " Great at Work " , tema ini saya anggap peting bagi kita Millenial khususnya agar kita mamapu menemukan " Bagaimana Performa maksimal, Melakukan Lebih Sedikit, Bekerja Lebih Baik, dan Mencapai Hasil Lebih Banyak dari sesuatu yang kita lakukan" dengan kata lain bagaimana "Efiensi Tindakan"
Mari kita lansung ke pembahasan dalam buku tersebut ;
KEBIASAAN
MATCHING PASSION WITH PURPOSE
Bekerja sesuai passion - melakukan apa yang dicintai, seringkali disebut sebagai kunci sukses. Sayangnya, pada kenyataannya kita juga banyak melihat orang-orang yang sangat menyukai sesuatu namun tidak menghasilkan apa-apa. Beberapa secara gegabah keluar dari pekerjaannya sebelumnya demi mengejar passionnya. Namun mereka berakhir dengan tidak memiliki pekerjaan apapun di akhirnya.
Menurut Morten Hansen, passion saja tidak cukup. Kita juga perlu memikirkan sisi lainnya: purpose.
Bila passion berarti mengerjakan apa yang kita cintai, maka purpose berarti mengerjakan apa yang orang lain butuhkan.
Bila passion berarti mengerjakan apa yang bermanfaat bagi kita, maka purpose berarti mengerjakan apa yang bermanfaat bagi orang lain.
Bila passion berarti fokus pada diri sendiri, maka purpose berarti fokus pada orang lain.
Mencari pekerjaan atau bisnis yang memenuhi passion dan purpose adalah kunci kesuksesan.
Dalam buku Great at Work, Morten Hansen menyebutkan ada 6 macam passion :
1. Intrinsic Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena saya menikmati mengerjakan tugas-tugas saya setiap hari."
2. Achievement Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena saya menikmati pengalaman mencapai kesuksesan/hasil"
3. Creative Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena saya menikmati proses kreatif di pekerjaan ini"
4. People Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena saya menikmati bekerja dengan berbagai orang"
5. Learning Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena pekerjaan saya memberi peluang belajar dan bertumbuh secara personal maupun profesional"
6. Competence Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena pekerjaan ini memberi saya kesempatan untuk melakukan apa yang terbaik/yang saya bisa setiap hari"
5. Learning Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena pekerjaan saya memberi peluang belajar dan bertumbuh secara personal maupun profesional"
6. Competence Passion - "saya menyukai pekerjaan saya karena pekerjaan ini memberi saya kesempatan untuk melakukan apa yang terbaik/yang saya bisa setiap hari"
Kita tidak perlu memiliki passion di keenam jenis tersebut. Seringkali 2-3 macam passion saja sudah mencukupi (atau bahkan 1 macam passion)
Sementara itu, purpose terdiri dari tiga tingkatan.
1. Berkontribusi pada orang lain dengan menciptakan nilai (dan tidak menyakiti orang lain)
2. Menemukan makna dari aktivitas kita
3. Menciptakan perbedaan dengan misi sosial
Lalu bagaimana jika pekerjaan kita saat ini tidak cocok dengan passion dan purpose kita? Kita bisa lakukan tiga hal berikut. :
1. Temukan peran baru. Selalu ada peluang di tempat yang sama dengan Anda berada saat ini. Yang Anda perlu lakukan adalah memikirkannya.
2. Perluas definisi passion Anda. Passion tidak hanya terkait dengan kesenangan akan tugas-tugas. Passion bisa muncul dari pencapaian, kreativitas, orang-orang, pembelajaran atau kemampuan.
3. Naiki tingkatan purpose satu per satu. Mulai dari berkontribusi dan tidak menyakiti orang lain, lalu mencoba menemukan makna terkait apa yang Anda lakukan sampai akhirnya Anda bisa melakukan sebuah misi sosial untuk menciptakan perbedaan di dunia ini.
Nah jadi sudah bisa dipahami kan sobat, penting bagi kita tidak hanya melakukan sesuatu hanya dengan " Passion " kita saja, namun kita harus menemukan " Purpose " dalam aktivitas yang kita lakukan, sehingga apa kita lakukan lebih kita cintai, dan dibutuhkan orang lain sehingga memberikan " manfaat & makna " bagi kemaslahatan bersama.
~Sekian
#Salambermanfaat
Label:
belajar,
bussines,
inspirasi,
intropeksi diri,
medan,
motivasi,
pemuda,
pengembangan diri,
self improvment,
semangat
Lokasi:
Indonesia
Kamis, 06 Desember 2018
Berdamai Dengan Hati
![]() |
| Doc Masjid Sumbar |
Damai lah hati,
Sungguh mengajari hati berbaik sangka itu indah..
Cara Allah menyayangimu bukan dengan meringankan masalahmu,
Tapi dengan menguatkan jiwamu sehingga sehebat apapun masalahmu kau tetap bertahan dan tak menyerah..
Cara Allah menyayangimu bukan dengan mengurangi beban yang kau pikul,
Tapi dengan mengokohkan pundakmu,sehingga kau mampu memikul amanah yang lebih besar kepadamu..?
Cara Allah menyayangimu mungkin tidak dengan memudahkan jalanmu menuju sukses,
Tapi dengan kesulitan yang kelak baru kau sadari bahwa kesulitan itu yang akan membuatmu semakin berkesan dan istimewa..
Hidup itu perlu masalah supaya kita punya kekuatan,
Perlu pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras..
Perlu air mata supaya kita tahu merendahkan hati,
Perlu dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai,
Perlu diuji supaya kita tahu mengucap syukur,
Beberapa luka tidak diciptakan untuk sembuh,tidak pula untuk menetap..
Jika ia berakhir dengan ke IKHLASAN,ia akan lahir menjadi cahaya yang itu adalah hadiah terindah dari Allah..
Berbahagialah pada takdir dengan penerimaan yang tulus,
Sesungguhnya mengajari hati berbaik sangka itu Indah..
Damailah Hati.
~ Anonim
#salambermanfaat
Selasa, 20 November 2018
STOP MENGELUH, PERBANYAK BERSYUKUR !
![]() |
| Doc. Mate Ie |
" JANGAN MENGELUH..
KARENA SATU KELUHAN AKAN MENUTUP MATA HATI ATAS JUTAAN NIKMAT YANG SUDAH KITA TERIMA "
Sedih gak jelas..
Mellow ga jelas..
Merasa beban dan ujian begitu berat..
Merasa kitalah yang paling berat ujiannya..
Padahal cinta Allah buat hamba-Nya tidak sedikit,
Padahal nikmat Allah buat kita tidak pernah habis..
Stop Galau..
Stop Merasa Allah Tidak Adil..
Justru kitalah yang kurang lapang hati,
Kitalah yang tidak pernah bisa bersyukur,
Sayang dan kasih Allah itu tidak terbilang..
Belajarlah untuk tetap tersenyum ketika terluka,
Tetap memaafkan ketika kecewa,
Agar kita bisa menjadi hamba yang pandai bersyukur..
Ingatlah bahwa janji-janji Allah itu nyata dan akan indah pada waktu yang tepat menurutNya..
Masih adakah hamdalah di lisan kita ??
Sekedar mengucap saja.. adakah ?
Atau tersebut saja tak pernah..
Bagaimana isi hati kita ?
Tertanamkah lintasan syukur ?
Hanya lintasan.. atau terfikirpun tidak ??
Jika kita sadar betapa tiap detail apapun yang Allah beri mengandung syukur..
Mungkin tak cukup hamdalah itu terucap tiap detiknya sepanjang masa..
Maka Allah mengizinkan kita mengingatNya melalui 33 kali ucapan hamdalah di setiap waktu sholat..
Mudah memang..
Namun berat bagi hati yang berkarat..
Astaghfirullahaladzim..
Ingat..
Jangan mengeluh..
Karena satu keluhan akan menutup mata hati atas jutaan nikmat yang selalu kita terima dari-Nya..
Jika kita selalu ikhlas pada sesuatu yang mengecewakan hati kita,
Maka percayalah Allah akan menggantikan kekecewaan itu dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka..
Ketika kita merasa lelah,
Jangan menyerah mungkin Allah akan tunjukkan saatnya waktu yang tepat,
Sedikit lagi,sedikit lagi dan sedikit lagi kamu akan mencapai apa yang kamu inginkan..
Ingat selalu akan tujuan utama kita,
Cukup yakin,percaya,dan tawakal,
Langitkan terus melalui doa-doa..
Allah yang akan kabulkan semua permohonan kita..
~ Smart 151
#Salambermanfaat
Kamis, 23 Agustus 2018
Kehilangan Diri Sendiri ( Fenomena Pemuda Zaman Now )
![]() |
| Doc. Mesjid Tua Minangkabau-Pariangan |
Perjalanan terberat dalam hidup adalah menemukan diri sendiri. Perjalanan terkelam dalam hidup adalah kehilangan diri sendiri. Perjalanan hidup paling membahagiakan dan penuh syukur adalah menemukan kembali diri sendiri.
***
***
Halo sobat cendekia,
Kali ini admin akan berbagi cerita tantang fenomena yang merupakan “Siklus Kehidupan” sering terjadi dan dihadapi oleh manusia se-usia kita saat ini khususnya pemuda ( 20 – 25 Tahun ). Dimana pemuda kita saat ini sering merasa “ Galau ” atau seperti sebagian dari kita merasa tidak bermakna, sebagian yang lain mungkin sedang “ kehilangan dirinya sendiri ” seperti pengalaman yang penulis pernah rasakan sendiri.
Memang sejatinya dalam perjalanan hidup kita saat ini ( Pemuda ) selalu dihadapkan pada berbagai krisis sebagai tanggung jawab menuju perkembangan menjadi manusia dewasa. Dalam perjalanan menuju kedewasaan, ada kalanya kita sampai pada masa-masa yang penuh konflik ketika keinginan dan relita tidak sejalan, ketika keinginan kita bertentangan dengan harapan orang-orang yang merasa dirinya lebih tahu dari pada diri kita sendiri.
Sebagai contoh ketika lulus kuliah dan belum memiliki prospek kerja, sudah memiliki pekerjaan namun merasa tidak sesuai kenginan kita, gagal dalam suatu wawancara pekerjaan, dikhianati teman dekat, patah hati ( karena di tekong misalnya ;D) , merugi dalam suatu bisnis, baru saja mengalami perceraian usia muda ( Maaf ) dan hal lainnya yang menyumbang kecemasan dan rasa frustasi kita sehari-hari bisa menjadi penyebab kita kehilangan diri sendiri sehingga menimbulkan kekacauan dalam pikiran kita ( Galau )
Lazimnya kita hanya menjalani hidup based on what most people do. Meskipun pada akhirnya, mulai timbul berbagai pertanyaan yang belum ada jawabnya di otak dan benak kita sendiri, seperti “mau jadi apa saya?”, “mau kemana sih jalan hidup saya?”, “mau kapan nikah?” dan sebagainya. Setiap pertanyaan muncul rutin satu per satu dalam setiap jamnya. Sementara, jawaban dari setiap pertanyaan tersebut hanya “saya nggak tau”
Kehilangan diri sendiri, seringkali membuat kita mempertanyakan kembali apa, siapa, dan mau kemana diri kita ini. Namun, yang kita temukan hanyalah diri kita yang lemah tak berdaya, terdegradasi dari himpitan dan kerasnya hidup. Kita bukan apa-apa, hanya seonggok manusia yang tidak berarti di luasnya galaksi ini. Kita merasa sedih, cemas, bimbang, tidak tahu akan berbuat apa, menyalahkan diri sendiri atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita ambil, dan akhirnya kita kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita kehilangan arah kehilangan diri kita sendiri. Kita berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan kita kehilangan jati diri.
Padahal jika kita meluangkan waktu sejenak untuk mengevaluasi diri kita kembali dengan bijak, mengapa hal ini bisa terjadi dalam diri kita? Ternyata semua terjadi memang pada fase-fase hidup dengan kondisi usia dan kehidupan saat ini yang sedang kita jalani sebagai seorang pemuda.
Setelah sekian lama saya bergulat untuk mencari diri sendiri yang hilang akhirnya, saya menemukan salah satu artikel yang menjelaskan tentang fenomena yang saya alami, yakni quarter life crisis. Quarter life crisis (QLC) adalah masa-masa yang saya ceritakan di awal tadi. Menurut The Guardian yang saya kutip dari Forbes, 85% milenial (tahun kelahiran 1980-2000) mengalami hal serupa di usia 20-30 tahun. Mereka mulai menanyakan tentang diri mereka, menanyakan tentang “apa yang sebenarnya dicari dalam kehidupan ini?” Mulai sering kecewa pada diri sendiri dan sebagainya.
Sejatinya, QLC bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus dipahami dan dipelajari. QLC ini terasa seperti alarm, tanda bahwa kita sudah dewasa. Setidaknya dewasa awal. Seperti saya yang bertemu dengan QLC saya dan berjalan menuju arah keluar dari QLC saya dengan berbagai cara. Saya mengangap jalan terbaik untuk keluar dari fase ini adalah mengenal diri. Saya mencoba berpikir deduktif-induktif. Dari segala macam cara yang saya lakukan, saya menganggap pangkal dari cara-cara tersebut adalah “seberapa besar saya mengenal diri saya”. Bagi saya hal itu akan membantu kita keluar dari QLC ini.
Sejatinya setiap orang pada dasarnya unik, dilahirkan dengan masalah nya masing-masing, maka saya yakin pasti cara yang bisa dipilih untuk keluar dari QLC ini jelas beragam. Kita bisa menemukan terapi kita sendiri kalau kita berhasil mengenal diri kita sendiri.
Pahamilah ketika kita sedang mengalami fase quarter life crisis. Memahami diri kita sendiri pada fase itu merupakan sebuah kabijaksaan dalam menemukan diri kita yang telah hilang.
~ Prawira
#Salam bermanfaat
*Diolah dari berbagai sumber
Memang sejatinya dalam perjalanan hidup kita saat ini ( Pemuda ) selalu dihadapkan pada berbagai krisis sebagai tanggung jawab menuju perkembangan menjadi manusia dewasa. Dalam perjalanan menuju kedewasaan, ada kalanya kita sampai pada masa-masa yang penuh konflik ketika keinginan dan relita tidak sejalan, ketika keinginan kita bertentangan dengan harapan orang-orang yang merasa dirinya lebih tahu dari pada diri kita sendiri.
Sebagai contoh ketika lulus kuliah dan belum memiliki prospek kerja, sudah memiliki pekerjaan namun merasa tidak sesuai kenginan kita, gagal dalam suatu wawancara pekerjaan, dikhianati teman dekat, patah hati ( karena di tekong misalnya ;D) , merugi dalam suatu bisnis, baru saja mengalami perceraian usia muda ( Maaf ) dan hal lainnya yang menyumbang kecemasan dan rasa frustasi kita sehari-hari bisa menjadi penyebab kita kehilangan diri sendiri sehingga menimbulkan kekacauan dalam pikiran kita ( Galau )
Lazimnya kita hanya menjalani hidup based on what most people do. Meskipun pada akhirnya, mulai timbul berbagai pertanyaan yang belum ada jawabnya di otak dan benak kita sendiri, seperti “mau jadi apa saya?”, “mau kemana sih jalan hidup saya?”, “mau kapan nikah?” dan sebagainya. Setiap pertanyaan muncul rutin satu per satu dalam setiap jamnya. Sementara, jawaban dari setiap pertanyaan tersebut hanya “saya nggak tau”
Kehilangan diri sendiri, seringkali membuat kita mempertanyakan kembali apa, siapa, dan mau kemana diri kita ini. Namun, yang kita temukan hanyalah diri kita yang lemah tak berdaya, terdegradasi dari himpitan dan kerasnya hidup. Kita bukan apa-apa, hanya seonggok manusia yang tidak berarti di luasnya galaksi ini. Kita merasa sedih, cemas, bimbang, tidak tahu akan berbuat apa, menyalahkan diri sendiri atas pilihan-pilihan hidup yang telah kita ambil, dan akhirnya kita kehilangan kendali atas diri sendiri. Kita kehilangan arah kehilangan diri kita sendiri. Kita berubah menjadi seseorang yang sama sekali tidak kita kenal, bahkan kita kehilangan jati diri.
Padahal jika kita meluangkan waktu sejenak untuk mengevaluasi diri kita kembali dengan bijak, mengapa hal ini bisa terjadi dalam diri kita? Ternyata semua terjadi memang pada fase-fase hidup dengan kondisi usia dan kehidupan saat ini yang sedang kita jalani sebagai seorang pemuda.
***
Setelah sekian lama saya bergulat untuk mencari diri sendiri yang hilang akhirnya, saya menemukan salah satu artikel yang menjelaskan tentang fenomena yang saya alami, yakni quarter life crisis. Quarter life crisis (QLC) adalah masa-masa yang saya ceritakan di awal tadi. Menurut The Guardian yang saya kutip dari Forbes, 85% milenial (tahun kelahiran 1980-2000) mengalami hal serupa di usia 20-30 tahun. Mereka mulai menanyakan tentang diri mereka, menanyakan tentang “apa yang sebenarnya dicari dalam kehidupan ini?” Mulai sering kecewa pada diri sendiri dan sebagainya.
Sejatinya, QLC bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sesuatu yang harus dipahami dan dipelajari. QLC ini terasa seperti alarm, tanda bahwa kita sudah dewasa. Setidaknya dewasa awal. Seperti saya yang bertemu dengan QLC saya dan berjalan menuju arah keluar dari QLC saya dengan berbagai cara. Saya mengangap jalan terbaik untuk keluar dari fase ini adalah mengenal diri. Saya mencoba berpikir deduktif-induktif. Dari segala macam cara yang saya lakukan, saya menganggap pangkal dari cara-cara tersebut adalah “seberapa besar saya mengenal diri saya”. Bagi saya hal itu akan membantu kita keluar dari QLC ini.
***
Sejatinya setiap orang pada dasarnya unik, dilahirkan dengan masalah nya masing-masing, maka saya yakin pasti cara yang bisa dipilih untuk keluar dari QLC ini jelas beragam. Kita bisa menemukan terapi kita sendiri kalau kita berhasil mengenal diri kita sendiri.
Pahamilah ketika kita sedang mengalami fase quarter life crisis. Memahami diri kita sendiri pada fase itu merupakan sebuah kabijaksaan dalam menemukan diri kita yang telah hilang.
~ Prawira
#Salam bermanfaat
*Diolah dari berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)



