Minggu, 08 Maret 2015

phatologi sosial. pendidikan luar skolah Unimed.dho

Doc. Sei Kepayang Tj.Balai


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pelacuran sebagai salah satu contoh bentuk tingkah laku yang bertantangan dengan norma social ataupun dapat dikatakan sebagai masalah social, namun tidak semua orang menyadari hal tersebut, banyak yang terjerumus kepada masalah social ini, karena dipengaruhi oleh factor lingkungan, pergaulan dimasyarakat dan sebagainya.
Dari masalah social seperti pelacuran ini banyak sekali merugikan masyarakat, terjerumus kedalam dosa. Maka didalam makalah ini kami langsung menyajikan langsung tentang masalah social tentang pelacuran. Dimana kita langsung mengetahui secara langsung apa, mengapa, dimana, dengan siapa, bagaimana yang sebenarnya pelacuran yang terjadi saat ini.
B.     Tujuan
      Tujuan dari kelompok kami melakukan obsevasi tentang pelacuran ini adalah agar kita tahu bagaimana sebenarnya pelacuran itu, apa penyebabnya, mengapa, dimana, dengan siapa, permasalahan apa yang terjadi dan apakah sama dengan teori yang ada dibuku mata kuliah patologi social tentang pelacuran tersebut. Dan kita juga tahu apa yang seharusnya kita lakukan, dan apa yang tidak pantas kita lakukan .
C.    Manfaat
Manfaat bagi mahasiswa
       Manfaat melakukan obsevasi ini yaitu kita sebagai mahasiswa menjadi tahu apa yang seharusnya kita lakukan, dan apa yang tidak, dan kita juga harus menjauhkan diri kita dari masalah-masalah social agar tidak terjerumus kedalamnya, dan kita sebagai mahasiswa yaitu sebagai generasi penerus bangsa harus mampu mengatasi masalah- masalah yang seperti itu agar tidak ada yang saling merugikan.


     Manfaat bagi masyarakat
      Manfaat bagi masyarakat adalah agar mereka sadar bahwa masalah social seperti itu adalah hal yang sangat buruk dan agar mereka mencari solusi untuk itu agar dimasyarakat tercipta hubungan yang harmonis agar tidak ada yang saling merugikan antara yang satu dengan yang lain.
     Manfaat bagi pelaku
      Manfaat bagi pelaku adalah agar dia tahu bahwa apa yang dilakukan nya tersebut sangat menyimpang yang dapat merusak norma, mengahancurkan dirinya sendiri, merugikan dirinya, keluarganya ataupun orang-orang disekitarnya. Maka untuk itu perlu perubahan pada dirinya agar dia sadar bahwa yang dilakukannya tersebut sangat merugikan Negara, merusak pandangan orang terhadap dirinya.














Bab II
Pembahasan

I.          Teori Prostitusi
a.      Pengertian  
 Pelacuran atau Prostitusi merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat, yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usaha pencegahan dan perbaikannya. Pelacuran itu berasal dari bahasa latin pro-stituere atau pro-stauree, yang berarti membiarkan diri berbuat zinah, melakukan persundalan, percabulan, pergendakan. Sedang prostitue adalah pelacur atau sundal. Dikenal pula dengan istilah WTS atau Wanita Tuna Susila. Secara etimologis prostitusi berasal dari kata prostitutio yang berarti hal menempatkan dihadapkan, hihadapkan, hal menawar. Adapula yang menghubungkannya dengan kata prostare yang berarti menjual atau menjajakan (Verkuyl, 1963).
Pengertian pelacuran menurut beberapa ahli, yaitu :
Bonger (1967)  
 Prostitusi ialah gejala kemasyarakatan dimana  wanita menjual diri melakukan perbuatan-perbuatan seksual sebagai mata pencarian. Pada definisi ini jelas dinyatakan adanya peristiwa penjualan diri sebagai ”profesi” atau mata pencaharian sehari-hari, dengan jalan melakukan relasi-relasi seksual.
Sarjana P.J de Bruine van Amstel
       Prostitusi adalah penyerahan diri dari wanita kepada banyak laki-laki dengan pembayaran 
Kartini Kartono (2007)
  1. Prostitusi adalah bentuk penyimpangan seksual, dengan pola-pola organisasi impuls/dorongan seks yang tidak wajar dan tidak terintegrasi dalam bentuk pelampiasan nafsu-nafsu seks tanpa kendali dengan banyak orang (prosmiskuitas), disertai eksploitasi dan komersialisasi seks yang impersonal tanpa afeksi sifatnya.
  2. Pelacuran merupakan peristiwa penjualan diri (persundalan) dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran.
  3. Pelacuran ialah perbuatan perempuan atau laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual dengan mendapatkan upah.
b.      Ciri Ciri Pelacur
  1. Bersifat mobil,  sering berpindah-pindah dari tempat atau kota lainnya, sering beWanita, lawan pealacur ialah gigolo (pelacur pria, lonte laki-laki)
  2.  Dominan Cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif menarik, baik wajah maupun tubuhnya. Bisa merangsang selera seks kaum pria.
  3. Masih muda-muda. 75 % dari jumlah pelacur di kota-kota ada dibawah usia 30 tahun. Yang terbanyak ialah 17-25 tahun. Pelacuran kelas rendahan dan menengah acap kali memperkerjakan gadis-gadis prapuber berusia 11-15 tahun, yang ditawarkan sebagai “barang baru”
  4. Pakaian sangat menyolok, beraneka warna, sering aneh-aneh/eksentrik untuk menarik perhatian kaum pria. Mereka sangat memperhatikan penampilan lahiriahnya, yaitu : wajah, rambut, pakaian, alat kosmetik dan parfum yang merangsang
  5. Berganti-ganti nama agar tidak dikenal banyak orang
  6. Kebanyakan mereka tidak jelas asal usulnya  
c.       Landasan Hukum
Berkaitan dengan prostitusi KUHP mengaturnya dalam dua pasal, yaitu pasal 296 dan pasal 506. Pasal 296 menyatakan 'barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan perbuatan cabul oleh orang lain, dan menjadikannya sebagai pencaharian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau denda paling banyak lima belas juta rupiah'. Sedangkan pasal 506 menyatakan 'barang siapa menarik keuntungan dari perbuatan cabul seseorang wanita dan menjadikannya sebagai pelacur, diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun.

d.      Faktor-faktor penyebab timbulnya pelacuran
v     Pada pihak wanita :
  1. Adanya keinginan dan dorongan manusia untuk menyalurkan kebutuhan seks, khususnya diluar ikatan perkawinan.
  2.  Komersialisasi dari seks, baik di pihak wanita maupun germo-germo dan oknum-oknum  tertentu yang memanfaatkan pelayanan seks.
  3.  Dekadensi moral, merosotnya norma-norma susila dan keagamaan pada saat orang mengenyam kesejahteraan hidup. 
  4.  Disorganisasi dan disintegrasi dari kehidupan keluarga, broken home, ayah atau ibu lari, kawin lagi, atau hidup bersama dengan partner lain.
  5. Adanya ambisi-ambisi besar pada diri wanita untuk mendapatkan status sosial yang tinggi, dengan jalan yang mudah tanpa kerja berat, tanpa suatu skill atau keterampilan khusus.
  6. Gadis-gadis pelayan toko dan pembantu rumah tangga tunduk dan patuh melayani kebutuhan-kebutuhan seks dari majikannya untuk tetap mempertahanan pekerjaanya.
  7. Ajakan taman-teman sekampung/ sekota yang sudah terjun dahulu dalam dunia pelacuran.
8.      Dll.
v      Pada pihak Pria  :
1.      Nafsu kelamin laki-laki untuk menyalurkan kebutuhan seks tanpa satu ikatan.
2.      Rasa iseng dan ingin mendapatkan pengalaman relasi seks diluar ikatan perkawinan.Ingin mencari variasi dalam relasi seks.
3.      Istri sedang berhalangan haid, mengandung tua atau lama sekali mengidap penyakit, sehingga tidak mampu melakukan relasi seks.
4.      Cacat jasmani, sehingga merasa malu untuk kawin, lalu menyalurkan kebutuhan-kebutuhan seksnya dengan wanita-wanita pelacur.
5.      Tidak mendapatkan kepuasan dalam penyaluran kebutuhan seks dengan istrinya.
6.      Dll.
e.        Fungsi Pelacur
1.      Sumber pelancar dalam dunia business.
2.      Sumber ksenangan dari kaum yang harus berpisah dari istrinya.
3.      Sumber hiburan individu atau kelompok
4.      Sumber pelayanan dan hiburan bagi orang cacat (misalnya pria yang wajahnya buruk, pincang, abnormal seksualnya dan para penjahat).
f.       Bentuk kegiatan atau tingkah laku manusia yang termasuk dalam bentuk pelacuran
1.      Pergundikan
2.      Tante Girang atau loose married woman
3.      Gadis-gasis panggilan
4.      Gadis-gadis Bar atau B-girls
5.      Gadis-gadis juvenline delinquent
6.       Penggali emas atau gold-diggers
7.       Hostess atau pramuria
8.       Promiskuitas/promiscuty
g.      Motif-motif yang melatarbelakangi pelacuran
  1. Adanya kecendrungan melacurkan diri pada banyak wanita untuk menghindarkan diri dari kesulitan hidup, dan mendapatkan kesenangan melalui “jalan pendek”. Kurang pengertian, kurang pendidikan, dan buta huruf, sehingga menghalalkan pelacuran.
  2. Ada nafsu-nafsu seks yang abnormal, tidak terintgrasi dalam kepribadian, dan keroyalan seks
  3. Tekanan ekonomi, faktor kemiskinan, ada pertimbangan ekonomis untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, khususnya dalam usaha mendapatkan status sosial yang lebih baik.
  4. Aspirasi materil yang tinggi pada diri wanita dan kesenangan , ketamakan terhadap pakaian-pakaian indah dan perhiasan mewah.
h.      Akibat-akibat Pelacuran
  1. Menimbulkan dan menyebarkan penyakit kelamin dan penyakit kulit. Penyakit kelamin tersebut adalah sipilis dan gonorrgoe. Keduanya dapat mengakibatkan penderitanya menjadi epilepsi, kelumpuhan, idiot psikotik yang berjangkit dalam diri pelakunya dan juga kepada keturunan.
  2. Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga, sehingga keluarga menjadi berantakan.
  3. Memberi pengaruh demoralisasi kepada lingkungan, khususnya remaja dan anak-anak yang menginjak masa puber.
  4. Berkorelasi dengan kriminalitas dan kecanduan minuman keras dan obat terlarang (narkoba).
  5. Merusak sendi-sendi moral, susila, hukum dan agama.
  6. Terjadinya eksploitasi manusia oleh manusia lain yang dilakukan oleh germo, pemeras dan centeng kepada pelacur.
  7. Menyebabkan terjadi disfungsi seksual antaralain : impotensi, anorgasme.
i.        Penanggulangan Pelacuran
v   usaha yang bersifat preventif
  1. Penyempurnaan undang-undang tentang larangan atau pengaturan penyelenggaraan pelacuran.
  2. Intensifikasi pendidikan keagamaan dan kerohanian, untuk menginsafkan kembali dan memperkuat iman terhadap nilai religius serta norma kesusilaan.
  3. Bagi anak puber dan remaja ditingkatkan kegiatan seperti olahraga dan rekreasi, agar mendapatkan kesibukan, sehingga mereka dapat menyalurkan kelebihan energi.
  4. Memperluas lapangan kerja bagi kaum wanita disesuaikan dengan kodratnya dan bakatnya, serta memberikan gaji yang memadahi dan dapat untuk membiayai kebutuhan hidup.
  5. Diadakan pendidikan seks dan pemahaman nilai perkawinan dalam kehidupan keluarga.
  6. Pembentukan team koordinasi yang terdiri dari beberapa instansi dan mengikutsertakan masyarakat lokal dalam rangka penanggulangan prostitusi.
  7. Penyitaan, buku, majalah, film, dan gambar porno sarana lain yang merangsang nafsu seks.
v  Usaha yang bersifat refresif kuratif
  1. Melakukan kontrol yang ketat terhadap kesehatan dan keamanan para pelacur dilokalisasi.
  2. Mengadakan rehabilitasi dan resosialisasi, agar mereka dapat dikembalikan sebagai anggota masyarakat yang susila. Rehabilitasi dan resosialisasi dilakukan melalui pendidikan moral dan agama, latihan kerja, pendidikan ketrampilan dengan tujuan agar mereka menjadi kreatif dan produktif.
  3. Pembinaan kepada para WTS sesuai dengan bakat minat masing-masing.
  4. Menyediakan lapangan kerja baru bagi mereka yangbersedia meninggalkan profesi pelacur, dan yang mau memulai hidup susila.
  5. Mengadakan pendekatan kepada pihak keluarga dan masyarakat asal pelacur agar mereka mau menerima kembali mantan wanita tuna susila untuk mengawali hidup barunya.
  6. Mencarikan pasangan hidup yang permanen (suami) bagi para wanita tuna susila untuk membawa mereka ke jalan yang benar.
  7. Mengikutsertakan para wanita WTS untuk berpratisipasi dalam rangka pemerataan penduduk di tanah air dan perluasan esempatan bagi kaum wanita

II.            Hasil Observasi  Permasalahan Prostitusi di Kota Medan
Prostitusi adalah  penyakit masyarakat yang penyebaranya hampir merata di Indonesia,khususnya di kota-kota besar.kali ini kelompok akan memaparkan hasil observasi mengenai prostitusi itu sendiri terkhusus praktek  prostitusi yang ada di kota medan.
            Adapun salah satu subjek yang dapat kelompok observasi ialah seorang Pekerja seks komersial yang bernama Duwi(Nama samaran),Duwi berumur ni saat  ini berumur 21 tahun mengaku telah 3 tahun menjalankan profesi sebagai pekerja seks komersial di samping kesibukannya sebagai pedagang pakaian di salah satu pajak di kota medan.
Untuk lebih jelasnya mari kita lihat hasil wawancara kelompok dengan narasumber ,
Pewawancara  : Selamat siang mbak,namanya siapa?
Narasumber     : siang juga,nama saya Dwi( mungkin nama samaran)
Pewawancara  : mbak dwi,apakah benar mbak salah seorang pekerja?
Narasumber     : iya,
Pewawancara  : Sejak kapan mbak dwi mulai bekerja sebagai WTS?
Narasumber     : Saya sudah 3 tahun bekerja sebagai WTS,
Pewawancara  : Selama 3 tahun ini,biasanya dimana nongkrongnya mbak?
Narasumber     : Biasanya saya di Pajak Hongkong atau di merdeka walk,
Pewawancara  : Mengapa mbak dwi berfrofesi sperti ini?
Narasumber     : Ya karena Ekonomi, Sebenarnya Saya tidak ingin sbekerja seperti    ini,namun   Kondisi ekonomi saya dan keluarga yang memaksa saya seperti ini,
Pewawancara  : Kalau boleh tau bagaimana kondisi keluarga mbak dwi sehingga mbak terpaksa bekerja seperti ini?
Narasumber     : Keluarga saya merupaka keluarga yang sulit ekonominya,adik saya ada lima                     Yang semuanya memiliki kebutuhan untuk sekolah dan memerlukan banyak                       biaya.di tambah lagi biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup saya di sini                                  (Medan).
Pewawancara  : Apakah hanya karena permasalahan ekonomi saja mbak melakukan hal ini?                         Apakah ada faktor lain yang mendorong mbak untuk melakukan hal ini?
Narasumber     : Ya yang utama karena ekonomi keluarga yang sulit,dsn sekarang mencari                pekerjaan itu sulit,di tambah lagi sya memeiliki tanggung jawab untuk                                 membiayai sekolah adik saya di kampung dan membantu perekonomian                                    keluarga,
Pewawancara  : Tetapi kan mbak sekarang sudah memiliki pekerjaan?
Narasumber     : Pekerjaan saya sebagai buruh dagang di pajak tidak mencukupi kebutuhan,                         saya juga kan harus mengirimi uang ke kampung,jadi dengan hanya menga                    andalkan pekerjaan saya sekarang itu tidak mencukupi,
Pewawancara  : Apakah ada dorongan lain mbak dalam mbak melakukan hal ini,seperti ad                           a nya kebutuhan seks yang tidak biasa?
Narasumber     : Awalnya Kalau kebutuhan seks yang berlebih tidak ada,namun karena sekara                   ng saya sering melakukan,terkadang ada rasa ingin itu sendiri di tambah lagi                        uang yang saya dapat cukup banyak,sehingga sering menjadi ketagihan
Pewawancara : Berapa biasanya tarif yang di patok mbak?
Narasumber     : Tergantung,kalau saya sendiri biasanya Rp1.500.000 untuk baberapa jam,
Pewawancara  : Bagai mana awalnya mbak masuk ke dunia prostitusi ini sendiri?
Narasumber     : Awalnya saya datang ke Medan dan tinggal ngekos di skitaran medan ini,                          dan saya berniat mencari pekerjaan di Medan, karena sulit mendapatkan     pekerjaan dan saya harus memenuhi kebutuhan hidup di sini,saya diajak oleh teman teman di kosan saya untuk melakukan hal ini,awalnya saya tidak mau,namun karena keadaan saya semakin mendesak menjadikan saya ikut dengan mereka,awalnya sih hanya ingin sekali saja,namun kerana uang yang saya peroleh cukup besar sehingga menjadikan saya ketagihan hingga sekarang sudah tiga tahun saya seperti ini,
Pewawancara  : Bagaimana dengan Teman mbak yang mengajak mbak,apakah dia sebulumnya telah terjun di dunia prostitusi ini sendiri?
Narasumber     : Iya,tanpa sepengetahuan saya,ternyata dia sudah menjadi pekerja di Medan ini,dan dia yang mengajak saya untuk tinggal bersama saat saya datang ke Medan,
Pewawancara  : Apakah sebelum ke Medan sudah mengenal dia?
Narasumber     :Ya,dia salah satu orang yang saya kenal dikampung saya,
Pewawancara : Jadi sepengetahuan mbak,kawan kawan mbak yang pekerja juga apakh mereka bersal dari Medan ini sendiri?
Narsumber       : Kalau untuk teman teman di tempat saya biasa nongkrong sih dominan itu orang-orang pendatang,bukan warga asli medan ini sendiri,namun untuk teman teman pekerja di tempat tongkrongan yang lain yang saya kenal banyak juga yang dari Medan ini sendiri,dan itu dominan yang masih anak anak sekolah seperti SMA dan ada beberapa yang SMP,
Pewawancara : Bagaimana biasanya mbak mendapatkan tamu?
Narasumber     : Kalau kami sih ada makelarnya,jadi ntar dia yang memeberikan job dan kami tinggal datang saja,dan terkadang juga langsung ketemu di tempat nongkrong,kalau yang seperti ini yang biasanya sudah langganan
Pewawancara  : Sepengetahuan mbak untuk pekerja yang masih sekolah,biasanya bagaimana mereka melakukan pekerjaan seperti ini?
Narasumber     :Mereka tidak setiap hari nongkrong,biasanya mereka di tawarka oleh kawan-kawan pekerja lain apabila ada tamu,dan terkadang juga pada waktu-waktu seperti libur sekolah mereka juga ikut nongkrong,
Pewawancara  : Apa yang melatar belakangi sehingga anak usia sekolah itu mau melakukan hal ini?
Narasumber     : Ya pasti karena bayaranya Mahal
Pewawancara  : Kalau pelanggannya sendiri,biasanya dari kalangan apa mbak?
Narasumber     : Biasanya orang-orang kaya,orang orang peperintahan,dan ada juga untuk umuran yang masih lajang sepeti itu,
Pewawancara  : Apakah mbak tidak takut akan penyakitnya mbak?
Narasumber     ; Tidak sih,karna sudah biasa,
Pewawancara  : Apakah mbak punya cita cita untuk masa depan mbak?
Narasumber     : Untuk sekarang si belum,namun harapan saya agar keluarga saya khususnya adik adik saya nantinya dapat sekolah dan bisa menjadi orang yang berhasil,
Pewawancara  : Kalau Dari mbak dwi sendiri,apakah mbak ada keinginan untuk berubah?
Narasumber     : Dari hati kecil saya rasa ingin berubah itu ada,namun karena kondisinnya seperti perubahan itu masih sulit untk saya lakukan,ditambah saya belum mendapat pekerjaan yang lebih mencukupi kehidupan saya,
Pewawancara  : Mungkin mbak ada ngerasa malu atau apa gitu mbak?
Narasumber     : ya rasa malu itu juga pasrti ada ya,namun karna sudah biasa sehingga saya tidak terlalu memikirkan hal itu,
Pewawancara  : Maaf sebelumnya mbak,apakah mbak tidak merasa bersalah atas apa yang mbak lakukan,kan kita ketahui prostitusi ini sendiri merupakan salah satu bentuk penyimpangan ?
Narasumber     : Merasa bersalah sih ada,namun karena ini juga kebutuhan saya untuk menghidupi keluarga saya dan menyekolahkan adik-adik saya mau bagaimana lagi, sedanggakan pejabat aja yang udah kaya melakukan korupsi dan tidak malu,dan dia juga yang menjadi tamu-tamu kami,
Pewawancara  : mbak dwi,apakah keluarga mbak dikampung mengetahui pekerjaan mbak ini?
Narasumber     : tidak,kalau tahu pasti sangat kecewa mereka,
Pewawancara  : Bagaimana pengalaman mbak dengan penertipan atau razia seperti itu?
Narasumber     : Kalau di Medan sendiri,selama tiga tahun ini saya bekerja belum pernah saya mengalami razia,sehinggaa aman aman aja
Pewawancara  : Baiklah mbak trimakasi sebelumnya atas meluangkan waktunya,dan trimakasi juga atas informasi yang di berikan mengenai prostitusi ini sendiri.

                        Berdasarkan hasil observasi diatas,kita ketahui bahwa praktek prostitusi itu sendiri sudah mewabah di Masayarakat hingga menyerang anak anak yang masih menempuh jenjang pendidikan tidak terkecuali di Kota medan.dan umumnya para pelaku praktek prostitusi ini sendiri mengaku menikmati profesinya dan tidak merasa bahwa mereka merupakan pelak penyimpangan sosial.




BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia, ekonomi adalah satul penting dalam keberlangsugan hidup, sehingga banyak oraang melakukan apapun termasuk melacurkan diri. Padahal kegiatan prostitusi adalah sebuah kegiatan dimana masyarakat memandang hal tersebut melanggar nilai-nilai moral (perbuatan tercela) disisi lain kegiatan tersebut dapaat di tolelir deminilai ekonomi, karena hamper sebagian besar kegiatan ini bersumber dari kemiskinan.
Rendahnya pendidikan iman, takwa dan moral bisa dijadikan alasan smakin menjamurnyan kegiatan prostitusi. Dan tidak selalu perempuan terus dislahkan karedalam hal ini selalu dipersalahkan , karena sebagai pelaku prostitusi, padahal banyak lelaki yang memanfaatkannya.

B.     Saran
Perlunya mencari pendekatan manusiawi dengan tidak selalu menyalahkan mereka yang terjun kedalam pelacuran karena pada dasarnya mereka(para wanita) korban baik dari kekerasan, pemerkosaan dll. Dan  kita memperlakukan mereka secara manusiawi.
Janganlah kita melihat, menilai baik buruknya seseorang dari apa yang ia lakukan . urusan benar salahnya , dosa-tidak dosa adalah urusan manusia denga Tuhannya. Bagaimanapun , niat bertobat dalam hati para wanita yag dilacuran lebih patut dihargai jika dibandingkan dengan para koruptor berdasi dihormati dan diam-diam memakan uang rakyat banyak masyarakat bila digerakkan, dan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait akanmampu melkukan tindak pencegahan dan penanggulangan periku prostitusi dilingkungannya.


         
D\aftar Pustaka
Kartini Kartono, Patologi Sosial, Bandung, 1979.
http://pamangsah.blogspot.com/2008/11/prostitusi-dan-permasalahnnya.html




HASIL OBSERVASI

PATOLOGI SOSIAL

‘’ PROSTITUSI ’’

OLEH:

Kelompok IV

1.    Ridho Prawira            1122171003
2.  Fikri Rizky                 1123171010
3.  Evi C Simanullang      1123171008
4.  Meri Sidauruk           1123171022
5.  Nuryanti Sinaga        1123171026

Dosen              : Silvia Mariah H,M,Pd
Mata Kuliah     : Patologi Sosial

                                     



PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIMED
2013












Jumat, 06 Maret 2015

makalah kelompok sosial.pendidikan luar sekolah unimed.dho

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Berbicara mengenai manusia tentunya juga berbicara mengenai seluruh aspek yang ada pada manusia tersebut. Banyak sekali yang harus dikaji mengenai manusia. Manusia sebagia makhluk sosial tidaklah mungkin hidup tanpa adanya orang lain. Dalam situasi ini manusia harus berinteraksi satu sama lain untuk memenuhi kebutuhannya.Semua yang dibutuhkan manusia tidaklah mungkin diatasi secara individual karena manusia sebagai makhluk sosial maka mereka saling membutuhkan dan saling tergantung antara satu sama lain, dalam kaitannya dengan hal tersebut.
Dalam sebuah masyarakat terdapat beberapa kelompok- kelompok sosial yang membuat interaksi mereka lancar dan tertur. kelompok sosial merupakan sistem yang bisa membantu masyarakat untuk mencapai tujuan mereka bersama dan di dalamnya ada norma-norma yang telah di sepakati barsama. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sherif bahwa kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua individu atau lebih yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur, dan norma-norma tertentu, yang khas bagi kesatuan sosial tersebut. Semisal contoh yang paling signifikan untuk dijadikan contoh yaitu rumah tangga, rumah tangga merupakan kelompok terkecil yang ada dalam masyarakat.
Dalam pembahasan masalah kelompok sosial yang dibahas dalam psikologi sosial bahwasanya kelompok sosial memiliki perbedaan dengan kebersamaan, jenis-jenis kelompok sosial dan ciri-ciri kelompok sosial. Makalah ini akan membahas mengenai hal tersebut sehingga kita dapat membedakan mana kelompok sosial dan serta ciri-cirinya.











BAB II
KELOMPOK SOSIAL

A. JENIS – JENIS KELOMPOK
Menurut Sherif kelompok sosial adalah suatu kesatuan sosial yang terdiri atas dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga diantara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma – norma tertentu, yang khas bagi kesatuan sosial tersebut.
Menurut Roland Freedman Cs kelompok sosial adalah organisasi terdiri atas dua atau lebih individu yang tergantung oleh ikatan – ikatan suatu sistem ukuran – ukuran kelakuan yang diterima dan disetujui oleh semua anggotanya. Menurut Park dan Burgess kelompok adalah sekumpulan orang yang memiliki kegiatan yang konsisten. Sedangkan menurut Gidding kelompok sosial timbul karena adanya consciousness of kind, kesadaran atas barang pada jiwa manusia.
Menurut paham fungsionalisme didalam antropologi yang di pelopori oleh Malinowski bahwa pertimbangan untuk membentuk kelompok sosial adalah adanya fungsi, adanya tujuan dari pada kelompok sosial. Tujuannya berupa tujuan bersama, misalnya pada kelompok berburu. Jadi kaelompok – kelompok sosial tersebut adalah himpunan atau satu kesatuan manusia yang hidup bersama dan adanya hubungan diantara mereka. Hubungan tersebut antara lain menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan suatu kesadaran untuk saling tolong – menolong serta adanya organisasi antara anggotanya.
1.KelompokPrimer
Dalam kelompok primer terdapat interaksi sosial yang intensif dan lebih erat antara anggotanya dari pada dalam kelompok sekunder. Kelompok primer juga disebut face to face group, yaitu kelompok sosial yang anggota-anggotanya sering berhadapan muka yang satu dengan yang lain dan saling mengenal dari dekat, dan karena itu saling hubungannya lebih erat. Peranan kelompok premer dalam kehidupan individu besar sekali karena dalam kelompok premer itu manusia pertama-tama berkembang dan dididik sebagai makhluk sosial. Disini ia memperoleh kerangkanya yang memungkinnya untuk mengembangkan sifat-sifat sosialnya, antara lain mengindahkan norma-noram, melepaskan kepentingan dirinya demi kepentingan kelompok sosialnya, belajar bekerja sama dengan individu-individu lainny, dan mengembangkan kecakapannya guna kepentingan kelompok.
Contoh-contoh kelompok premer adalah keluarga, rukun tetangga, kelompok sepermainan sekolah, kelompok belajar, kelompok agama dan sebagainya.
2.Kelompok Sekunder
            Interaksi dalam kelompok sekunder terdiri atas saling hubungan yang tidak langsung, berjauhan dan formal, kuarng bersifat kekeluargaan. hubungan-hubungan dalam kelompok sekunder biasanya lebih objektif. Peranan atau fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia ailah untuk mencapai tujuan tertentu dalam masyarakat dengan bersama, secara objektif dan rasional. Perbandingan antara pergaulan antara kelompok primer dan sekunder dapat digambarkan dengan perkataan Tonnies, seorang ahli ilmu kemasyarakatan, yaitu bahwa kelompok primer bersifar Gemeinschaft, artinya merupak suatu persekutuan hidung yang hubunngnannya satusama lain erat sekali.. Sedangkan kelompok sekunder bersifat Gesselschaft, artinya suatu kesatuan sosial yang hubungannya satusama lain berdasarkan pamrih, selalu memperhitungkan rugi-laba.
Contoh-contoh kelompok sekunder ialah partai politik, perhimpunan serikat kerja dan sebagainya.

3. Kelompok Formal dan Informal
Terdapat pula pembagian kelompok sosial ke dalam kelompok formal atau resmi dan kelompok informal atau kelompok tidak resmi.Inti perbedaan disini ialah bahwa kelompok informal itu tidak berstatus resmi dan tidak didukung oleh peraturan-peraturan ADRT tertulis seperti pada kelompok formal. Kelompok informal juga mempunyai pembagian tugas, peranan-peranan dan hirarki tertentu, serta norma pedoman prilaku anggotanya dan konvensinya, tetapi hal ini tidak dirumuskan secara tegas dan tertulis seperti pada kelompok formal.
Contoh kelompok formal semua perkumpulan yang beranggapan dasar dan beranggapan rumah tangga merupakan kelompok resmi..
Pembentukan kelompok informal itu tentu juga terdapat di luar kelompok-kelompok resmi yang besar, seringdibentuk di tengah kehidupan sehari-hari, lingkungan kerja, tempat kediaman yang dekat.
Contoh: contoh sekelompok kawan-kawan atau keluarga yang sering kunjung mengunjungi, fanclub, kelopok arisan.
4.  Kelompok-kelompok semu dan tidak teratur
1)      Kerumunan
Kerumunan ialah sekumpulan orang yang tidak terorganisir dan bersifat sementara. Suatu kerumumnan dapat memiliki pemimpin, tetapi tidak memiliki struktur dan pembagian kerja. Identitas seseorang akan tenggelam apabila berada dalam sebuah kerumunan.
Tipe-tipe kerumunan
a)      Khalayak penonton (pendengar formal/formal audience)
Kerumunan demikian mempunyai perhatian dan tujuan yang sama, misalnya penonton bioskop, pengunjung khotbah agama, dsb.
b)   Kelompok ekspresif yang direncanakan (planned expressive group)
Kerumunan yang terdiri atas orang-orang yang mempunyai tujuan sama tetapi  pusat perhatiannya berbeda-beda, misalnya kerumunan orang-orang yang berpesta
c) Kumpulan orang yang kurang menyenangkan (inconvinent aggregations)
      Dalam kerumunan semacam ini kehadiran orang lain merupakan halangan bagi
      seseorang dalam mencapai tujuan. Misalnya: antre tiket, kerumunan penumpang    bus, dst.

d) Kumpulan orang-orang yang panik (panic crowd) Ialah kerumunan yang terdiri atas orang-orang yang menghindari bencana/ancaman. Misalnya pengungsi
e) Kerumunan penonton (spectator crowd)
Yaitu kerumunan orang-orang yang ingin melihat sesuatu atau peristiwa tertentu. Kerumunan semacam ini hampir sama dengan formal audience, tetapi tidak terencana
f) Lawless crowd
Yaitu kerumunan orang-orang yang berlawanan dengan hukum, misalnya: acting mobs, yakni kerumunan orang-orang yang bermaksud mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan kekuatan fisik. Contoh lain: immoral crowd, seperti formal audience, tetapi bersifat menyimpang.
2) publik (massa)
Seringkali disebut dengan khalayak umum atau khalayak ramai. Publik semacam dengan kelompok hanya tidak menjadi kesatuan, hubungan sosial terjadi secara tidak langsung, melainkan melalui alat-alat komunikasi massa, seperti: media massa cetak, elektronik, termasuk pembicaraan berantai, desas-desus, dan sebagainya

B. CIRI-CIRI UTAMA KELOMPOK
1. Terdapat motif-motif yang sama
Terbentuknya kelompok sosial itu adalah ialah karena bakal anggotanya berkumpul untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dengan kegiatan bersama lebih mudah dan dan dapat di capai dari pada atas usaha sendiri. Jadi, dorongan atau motif bersama itu menjadi pengikat dan sebat utama terbentuknya kelompok sosial. Tanpa motif yang sama antara sejumlah individu itu sukar sukar untuk terbentuk suatu kelompok sosial.
Tetapi tidak hanya motif yang sam itu saja yang dapat mengikat dan membentuk sejumlah orang menjadi suatu kelompok sosial, sebab adanya suatu motif yangg sama itu harus disertakan kesadaran bahwa tujuan-tujuan tersebut haruslah dicapai dengan kerja sama anatara orang-orang yang bermotif sama..
Tujuan-tujuan bersama yang diusahakan oelh kelompok sosial bermacam-macam jenisnya, misalnya keuntungan ekonomis seperti upada usaha koperasi dalam memberi barang konsumsi bersama. Dapat pula tujuan bersama itu berupa tujuan politik, tujuan ilmiah, dan lainya.
2. Terdapat reaksi-reaksi dan kecakapan yang berlainan antar anggota kelompok.
            Dalam menguraikan pasal ini oleh Sherif dan kawan-kawan ditandaskan bahwa situasi sosial, baik situasi kebersamaan maupun situasi kelompok, pada dirinya sendiri sudah mempunyai pengaruh berlainan terhadap tingkah laku individu dibandingkan dengan kebiasaan tingkah laku individu itu dalam keadaan sendiri. Dalam hal itu tampak betapa mudahnya berlangsungnya imitasi dan sugesti pada umumnya dalam situasi tersebut. Demikian pula dalam terbentuknya kelompok sosial yang beralih dari suatu kebersamaan. Dengan demikian situasi sosial itu dapat merangsang reaksi-reaksi berlainan dari individu-individu yang bakal menjadi anggota kelompok. Dari berlainan kecakapan-kecakapan atas dasar perbedaan-perbedaan dalam kemampuan-kemampuan antar anggoata kelompok yang dirangsang oleh situasi sosial itu, maka terjadilah pembagian tugas yang khas antara anggota-anggotanya sesuai dengan kecakapannya untuk turut merealisasikan tujuan kelompok secara kerja sama. Demikianlah lambat-laun terjadi struktur kelompok yang khas serta norma-norma dan pedoman-pedoman pelaksanaan kegiatan kelompok serta makin menegas berdasarkan reakasi-reaksi dan kecakapan yang berlainan.
3.  Terdapat penegasan struktur kelompok
Yang disebut dengan struktur kelompok ialah suatu sistem yang cukup tegas mengenai hubungan-hubungan anatara anggota-anggota kelompok berdasarkan peranan, status-status mereka sesuai dengan sumbangan masing-masing dalam interaksi kelompok ke tujuannya.
Pembagian tugas-tugas dan koordinasi antara tugas-tugas tiap anggota lambat laun akan akan terbina mengenai pengharapan-pengharapan yang timbal balik anatar anggotan, bahwa tugas-tugas yang diserahkan masing-masing juga kan di selesaikan dengan sebaik-baiknya. Nah kejelasan mengenai pembagian tugas-tugas itulah yang akan mengarahkan pada penegasan fungsi dan peran para anggota-anggotanya.
4. Terdapat penegasan norma-norma kelompok
Bersamaan dengan terbentuknya struktur dalam interaksi kelompok, terbentuklah norma-norma tingkah laku yang khas antara anggota-anggota kelompoknya.
Norma kelompok tersebut bukanlah norma statis atau angka rata-rata mengenai tingkah laku yang sebenarnya terjadi dalam kelompok itu, melainkan merupakan pedoman-pedoman untuk mengatur pengalaman dan tingkah laku anggota kelompok dalam bermacam-macam situasisosial yang bersangkutan dengan kelompok.Norma kelompok ialah pengertian yang seragam mengenai cara-cara tingkah laku yang patut dilakukan oleh anggota kelompok apabila terjadi sesuatu yang bersangkutpaut dengan kehidupan kelompok. Norma dalam suatu kelompok ada yang tertulis dana ada juga yang tidak, biasanya sesuai jenis kelompoknya..
Norma kelompok informal biasanya terealisasikan dalam bentuk pengertian satu sama lain terhadap prilaku yang ada. Sedangkan kelompok formal mempunyai norma-norma tertulistentang prilaku semua anggotanya.Norma sosial merupakan adalah patokan umum mengenai tingkah laku dan sikap individu anggota kelompok yang dikehendaki oleh kelompok mengenai bermacam-macam hal yang berhubungan dengan kehidupan kelompok yang melahirkan norma-norma tingkah laku dan sikap-sikap itu mengenai segala situasi yang dihadapi oleh anggota-anggota kelompok .



lAPIRAN
a.      Busana Muslim Keluarga.jpgKelompok Sosial Primer








kober 3.jpg1.1 Keluarga merupakan kelompok sosial primer yang ada di masyarakat





1.2 Kelompok belajar juga merupakan kelompok sosial primer yang ada di masyarakat

b.      parpol(skunder).jpgKelompok Sekunder





1.3 Partai Politik merupakan kelompok sosial sekunder
buruh.jpg





1.4 Serikat buruh juga merupakan kelompok sosial sekunder
c.       Kelompok Formal & Nonformal
1.      SAM_1249.JPGKelompok Formal





1.5.SAM_1248.JPGUnit Kegiatan Mahasiswa Islam termasuk salah satu contoh kelompok sosial di    masyarakat





1.6.Salah satu keigatan formal yang dilakukan unit kegiatan mahasiswa islam

2.      Kelompok Nonformal
arisan 3.jpg





1.7 Arisan merupakan kelompok sosial Nonformal
IMG-20120909-00693.jpg





1.8 Arisan yang dilakukan ibu-ibu merupakan kelompok sosial informal
d.      Kelompok Semu/ Tidak Teratur
khotbah  jumatt.jpg





1.9 kelompok orang yang mendengarkan khotbah agama juga termasuk kelompok sosial semu & tidak semu.
pict0768.jpg





1.10 Kelompok pesta termasuk kedalam tipe kelompok sosial ekspresif yang direncanakan
IMG_20140308_124005.jpg





aa.jpg1.11 Kelompok masyarakat pengungsian bencana alam gunung sinabung merupakan salah salah satu kelmpok sosial tipe kelompok massa





1.12 Kelompok pengungsian bencana gunung sinabung merupakan kelompok sosial.

Daftar Pustaka

Ahmadi Abu.2007.Psikologi Sosial,Edisi Revisi.Jakarta.Rineka Cipta
Gerungan,W.A.2002.Psikologi Sosial.Bandung.Refika Aditama












Hasil Observasi
 Jenis-jenis kelompok sosial yang ada di masyarakat
 






         OLEH :
Ridho Prawira                        1122171003
        Rosmei Marpaung                 1122171002
       Eva Marito Marbun               1123171007
       Fadli Ramadhan Siregar        1123171009
 Sevilla                                    1113171026

Jurusan              :      Pls/Reguler/2012
Mata kuliah       :      Psikologi Sosial
Dosen                  :      Dra.Rosdiana,M.Pd
                                                           







PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2013

Rabu, 25 Februari 2015

muhasabah diri

Salam cinta saudaraku.
Tahukah engkau siapakah orang yang merugi itu?
Rasulullah SAW bersabda : “ Orang yang merugi dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, Puasa dan Zakat. Namun ia juga membawa dosa menuduh, mencela, memakan harta orang lain dengan batil, dan memukul orang lain “
Wahai orang yang menyia-nyiakan usianya, sampai kapan kamu akan menunda taubat ?
Apakah kamu orang yang meniti kebahagiaan ?? Atau pada wajahmu tergambar penyesalan .?
Apakah kamu tahu amalan itu dierima atau di tolak ?

# Mhs pencari sepenggal Firdaus

_Jejak wira


Minggu, 15 Februari 2015

pintu masuk setan kedalam jiwa

Pintu Masuk Setan ke Dalam Jiwa
Perumpamaan hati adalah seperti benteng, sedangkan setan adalah musuh yang ingin memasuki benteng tersebut untuk menguasainya. Manusia tidak dapat menjaga benteng tersebut apabila manusia tidak menjaganya, dan tidak mengetahui pintu-pintu masuk nya serta celah celah setan untuk menyerang benteng hati manusia tersebut.
Pintu masuk dan celah setan adalah sifat-sifat hamba yang banyak jumlahnya, dan diantar pintu-pint utama adalah sebagai barikut :
1.   Marah dan syahwat
Marah dapat membius akal manusia apabila tentara akal lemah, maka tentara setan akan maju menyerang manusia. Apabila manusia marah maka setan mempermainkan nya seperti anak kecil mempermaikan bola.

2.   Dengki dan Tamak
Apabila seseorang tamak,maka ketamakan itu akan membuatnya buta dan tuli, sebagai mana sabda Nabi saw, cintamu pada sesuatu membuatmu buta dan tuli
Ketika jiwa tertutupi oleh kedengkian atau ketamakan, ketika itulah setan masuk dan menumbuhkan kesan bagus pada padangan orang yang tamak,sehingga iya akan melampiaskan keinginannya sekalipun itu munkar dan keji.

3.    Kenyang berlebihan
Kenyang yang berlebihan merupakan pintu masuk setan, karena rasa kenyang dapat dapat memperkuat syahwat,dan syahwat adalah senjata setan. Kenyang yang berlebihan mengandung 6 sifat tercela :
-          Pertama, menghilangkan rasa takut kepada Allah dari dalam hati
-          Kedua, menghilagkan kasih sayang kepada sesama makhluk karena mengira mereka semua kenyang
-          Ketiga, menghambat ketaatan
-          Keempat, tidak tanggap apabila mendengar ucapan hikmah
-          Kelima, tidak menyentuh hati apabila menyampaikan nasihat dan hikmah kepadanya
-          Keenam, menimbulkan banyak penyakit/ merusak kesehatan

4.    Suka bermegahan dengan perabotan, pakaian dan rumah
Apabila hal ini telah mendominasi hati manusia maka setan bertelur dan menetas di dalamnya. setan akan terus mengajak seseorang itu untuk terus bermegah-megahan dengan perabotan pribadinya, memperluas bangunannya, menghiasi pakaiannya layaknya pakaian setan, dan bermegah-megahan tanpa ada maknanya. setan membenamkanya kedalam hal tersebut sepanjang hidup.

5.    Terburu-buru dan tidak tabayun
Nabi saw, bersabda, “Terburu-buru adalah dari setan dan berhati-hati adalah ari Allah”( HR.Tirmizi).
Larangan terburu-buru ini disebabkan karena amal perbuatan harus dilakukan setelah dipahami dan dimengeti,sehingga di butuhkan perenungan dan waktu. Selain menghalangi kematangan berfikir, sikap terburu buru juga jadi kesempatan setan untuk memasukan kejahatanya kepada manusia secara tidak disadari.


6.    Uang dan segala harta kekayaan
Uang, dinar,dirham dan segala harta kekayaan mulai dari barang berharga, kendaraan, dan tanah, semua itu merupakan pintu masuk setan ke dalam jiwa apabila salah meposisikanya di alam hati dan salah mengelolanya,untuk itu manusia harus mewasapadainya.
Orang yang sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya maka hati orang seperti itu akan kosong.pada saat seperti ini, andai ia menemukan uang seratus dinar di jalanan, misalnya, maka dalam jiwa akan muncul bermacam keinginan dan setiap keinginan nya akan membutuhkan unag seratus dirham lainya. Ia tak akan merasa cukup dengan apa yang ia temukan.bisa jadi ia membutuhkan sembilan ratus dirham lainya.padahal pada awal nya ia tidak membuatuhkan uang seratus dinar itu.tetapi sekarang setelah menemuka nuang seratus dinar tadi,ia merasa telah menjadi kaya dan membutuhkan aembilan ratus dinar lainya untuk membeli dan memenuhi segala keinginannya yang baru muncul dalam hatinya.
Setiap sesuatu akan mengundang sesusatu yang lainya dan begitu seterusnya hingga ia terjerumus kedalam lembah yang lapisan terbawahnya dalah jahannam yang tida ada lapisan lagi setelahnya.
            Ya Allah, jadikanlah hartaku berada di tanganku, jangan biarkan harta ini memasuki kedalam hatiku. Amin.

7.    Bakhil dan takut Miskin
Bakhil dan takut miskin merupakan salah satu pintu utama setan. Sebab hal inilah yang mencegah seserang dari berinfak an bersedekah, lalu mengajak pemiliknya untuk menimbun, menyimpan dan menuju siksa pedih yang dijanjikan kepda orang-orang yang menumpuk-numpuk harta sebagai man yang diungkapakan dalam Al-Quran.
            Sufyan berkata, “ Setan tidak punya senjata seampuh rasa takut miskin. Dengan senjata ini ia mulai melakukan kebatilan, mencegah, kebenaran, berbicara dengan hawa nafsu, dan berprasangka buruk kepada Tuhan nya”
            Diantara keburukan sifat bakhil adalah keingina untuk selau berada di pasar guna mengumpulkan harta, padahal pasar merupakan tempat berkumpulnya setan.


                                                                        _Jejak Wira


pesan cintauntuk mu

Salam cinta saudaraku.
Tahukah Engkau apa kebahagiaan itu??
Kebahagiaan tidak terletak pada cek yang dicairkan,  pada rumah yang mewah, tidak pada mobil yang mewah, bukan pada wangi yang semerbak, bukan pada gandum yang ditumbuk dan bukan pula pada kain yang dibentangkan,
Kebahagiaan itu adalah keriangan hati, karena kebanaran yang di hayatinya.
Kebahagiaan adalah ketenangan hati, karena kebaikan disekelilingnya.
Kebahagiaan itu saat ia selalu ingat kepada Rabb nya.
“Sesengguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik “ (Qs.Al-A’raf : 56)
Saudaraku, menjadi penting itu baik, tetapi menjadi baik jauh lebih penting.

# Mhs pencari sepenggal Firdaus

_Jejak wira